INTERVENSI

Intervensi-Intervensi Behavioris

Pendekatan pendekatan manajemen kognitif dan behavioris memiliki tujuan yang sama pengembangan perilaku-perilaku siswa yang diinginkan dan penghilangan perilaku-perilaku siswa yang tidak layak. Namun, tekanan keduanya berbeda. Jika pendekatan fokus pada pemikiran dan pemahaman, maka fokus dalam pendekatan behavioris, sebagai mana namanya, adalah pada perilaku itu sendiri.

Pendekatan-pendekatan kognitif cukup ideal; guru ingin siswa-siswanya memahami paturan-aturan dan respons-respons atas aturan tersebut serta bertanggung jawab untuk menaatinya. Sayangnya kita terkadang menghadapi situasi dimana pembelajar tampak tidak mampu atau enggan untuk bertanggung jawab atas perilaku mereka (Fabiano, Pelham, & Gnagy, 2007). Apalagi jika perilaku tersebut dikaitkan dengan soal waktu dengan keamanan, guru mungkin lebih baik menggunakan pendekatan manajeman langsung daripada pendekatan manajemen kognitif. Dalam situasi-situasi seperti ini, intervensi-intervensi behaviorial sebenarnya dapat menjadi alternatif yang efektif (Reynolds, Sinatra, & Jetton, 1996).

Pendekatan-pendekatan manajemen behavioris mengidentifikasi perilaku-perilaku tertentu yang diinginkan, dan ketika siswa menampilkan perilaku-perilaku ini, mereka akan dihargai. Sebaliknya, ketika mereka menampilkan perilaku-perilaku yang tidak diinginkan, mereka pun akan dihukum (Murphy, 2007).

Penelitian menunjukkan bahwa sistem behavioris seperti yang dilakukan Cindy dapat menjadi efektif  dalam memprakarsai perikau-perilaku yang baru (McCaslin & Good, 1992). Sistem-sistem yang fokus pada reward lebih disukai daripada sistem-sistem yang menggunakan punishment (Alberto & Trotman, 1999), tetapi fokus secara eksklusif pada perilaku-perilaku yang tidak positif saja tentu tidak akan dapat bekerja dengan baik. Begitu pula, jika semua penghukum (punisher) dihilangkan, beberapa siswa tentu akan tambah bersikap nakal dan tidak baik (Pfiffer, Rosen, & O’Leary, 1985; Rosen O’Leary, Joyce, Conway; & Pfiffer, 1984).

Beberapa pedoman dalam menerapkan hukuman secara efektif meliputi hal-hal berikut ini :

  • Menggunakan hukuman seefektif mungkin untuk mencegah iklim kelas yang kacau.
  • Melaksanaan hukuman secara langsung setelah perilaku yang tidak baik muncul.
  • Hanya menggunakan hukuman yang cukup keras untuk menghilangkan perilaku yang benar-benar merugikan.
  • Menghindari memanfaatkan seat work sebagai bentuk hukuman.
  • Melaksanakan hukuman secara logis dan objektif jangan dalam suasana kemarahan.

Beberapa pendekatan manajemen secara sistematis menggunakan penguat (reinforcer) dan penghukum (punisher) dalam usaha untuk mendorong perilaku-perilaku yang baik dalam kelas. Disiplin asertif atau disiplin yang tegas (assertive discipline), merupakan salah satu bentuk sistem yang paling terkenal.

Disiplin Asertif : sebuah pendekatan sistematis pada konsekuensi-konsekuensi. Selama tahun 1980-an, sebuah pendekatan dalam manajemen kelas, yang disebut sebagai disiplin asertif, menjadi sangat populer. Pendekatan tersebut kontroversial; kritik-kritik membantah bahwa pendekatan tersebut bersifat punitif dan menekankan pada kepatuhan dan kesesuaian saja selama pembelajaran dan disiplin- diri (brophy, 1999; McLaughlin, 1994). Namun, ada pula peneliti yang tidak setuju dan menyatakan bahwa dengan menekankan pada penguatan positif, disiplin asertif sebenarnya menjadi salah satu pendekatan pembelajaran yang sangat efektif (canter, 1988).

Sedangkan kamitidak mendukung, tidak pula menyalahkan fungsi dari pendekatan ini. Meskipun popularitasnya telah menurun dalam tahun-tahun terakhir ini, konsep tersebut terus menjadi terkenal hingga saat ini. Jarang sekali distrik-distrik sekolah yang tidak memiliki pengalaman dengan program ini; diperkirakan bahwa lebih dari 750.000 guru telah di-training dalam program ini (Hill, 1990). Untuk alasan itulah kami membahasnya dalam bagian kali ini.

Disiplin asertif mendorong guru untuk menggunakan respons yang tegas pula daripada respons yang pasif dan tidak bersahabat. Hal ini didasarkan pada premis bahwa guru memiliki tiga hak :

  1. Hak untuk membangun struktur kelas yang kondusif untuk pembelajaran.
  2. Hak untuk menentukan dan mengharapkan perilaku yang layak dari siswa.
    1. Hak untuk meminta bantuan dari orang tua, kepala sekolah, atau para profesional lain untuk meneribkan kelas.

Dengan menggunakan hak hak ini sebagai landasan, para pendukung pendekatan disiplin asertif menciptakan semacam sistem manajemen yang didasarkan pada pandangan-pandangan behavioris tentang pembelajaran. Aturan-aturan dan prosedur-prosedur dibuat pada awal tahun dan diperkuat dengan penguat-penguat (reinforces) dan penghukum-penghukum (punishers). Penguat-penguat (reinforces) dapat meliputi hal-hal berikut ini.

  • Pujian.
  • Penghargaan.
  • Catatan-catatan atau panggilan-panggilan telepon pada  orang tua (bentuk pujian tambahan).
  • Hak khusus, seperti mampu memainkan permainan atau mengerjakan teka-teki.
  • Konsekuensi-konsekuensi material, seperti makanan atau hadiah.

Sedangkan penghukum-penghukum (punisher) dapat meliputi antara lain sebagai berikut :

  • Batas waktu (memisahkan siswa dari siswa-siswa lain, seperti di belakang lemari buku).
  • Pencopotan hak istimewa, seperti dibelakang memperbaiki komputer atau menerapkan pendidikan fisik.
  • Penahan sebelum dan sesudah sekolah.
  • Dikirim pada kepala sekolah atau dekan.
  • Catatan atau panggilan telepon pada rumah dengan memerinci kenakalan/perilaku yang buruk.

Penguat (reinforcer) dan penghukum (punisher), diperjelas pada siswa sejak awal tahun dan ditulis dalam bentuk daftar di papan tulis atau media-media pengumuman lain.

Canter dan canter (1992) menekankan aspek terakhir disiplin asertif, yaitu broken record. Dalam menghadapi masalah, guru sebenarnya dapat tergelincir. Utnuk menghindari hal ini terjadi, guru perlu didorong untuk menggunakan teknik “broken record” .

Andaikata tidak terlalu sering dilakukan (tiga kali adalah batas maksimal yang direkomendasikan), teknik ini akan membantu guru untuk tetap fokus menghadapi masalah-masalah manajemen tanpa perlu teralih dari sasaran yang diinginkan.

Meskipun banyak guru berpengalaman tidak menggunakan sisitem manajeman yang sekaku disiplin asertif ini, beberapa peneliti justru merekomendasikan secara khusus untuk para guru pemula (Walfgang & Glickman, 1986)

Sistem behaviorial memang tidak melarang guru menyediakan alasann-alasan atau membuat aturan-aturan yang disertai dengan masukan masukan dari siswa.

Merancang dan Mempertahankan Sistem Manajeman Behavioral. Merancang sebuah sistem manajemen yang didasarkan pada pendekatan behaviorisme secara khusus melibatkan langkah-langkah berikut ini :

  • Menyikakan daftar aturan-aturan spesifik. Aturan-aturan seharusnya merepresentasikan perilaku-perilaku yang di amati, seperti “Bicaralah hanya ketika diperkenankan oleh Guru.”
  • Memerinci penghukum (punisher) untuk tindakan-tindakan yang melanggar aturan dan penguat (reinforcer) untuk tindakan-tindakan yang menaati aturan.
  • Menampilkan aturan-aturan dan procedur-procedur dan menjelaskan konsekuensi-konsekuesninya pada semua siswa.
  • Menerapkan konsekuensi-konsekuensi secara konsisten.

Dalam merancang sistem manajemen yang komprehensif, anda harus menggunakan elemen-elemen kognitif dan behaviorial. Sistem-sistem behaviorial memiliki keuntungan, yaitu dapat diaplikasikan secara langsung (immadialety applicable). Sistem-sistem ini sangat efektif dalam memperkasai perilaku-perilaku yang diinginkan, khususnya pada siswa-siswa yang muda. Selain itu, siste,-sistem tersebut juga berguna untuk mengurangi kenakalan-kenakalan yang kronis. Sedangkan hasil-hasil dari sistem kognitif memang lebih lama munculnya, tetapi sistem ini pada akhirnya lebih mampu mengembangkan tanggungjawab siswa daripada sistem-sistem behaviorial.

Bruhubungan dengan pendekatan-pendekatan manajemen kognitif dan behaviorial ini, mari pertimbangan rangkaian opsi-opsi intervensi.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s